marquee

i write about what i feel

Minggu, 19 Februari 2012

dia



Masih ingatkah apa itu cinta? Apa yang disebut dengan rasa sayang yang berlebih terhadap seseorang? Hingga kau rela dan mampu melakukan segalanya untuk orang yang kau cinta, untuk orang yang kau sayang. Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, hingga tak ada orang lain yang mampu mengisi hatimu lagi. Hingga kau benar-benar lupa dengan segalanya. Dan hanya dia yang ada dalam benakmu.
Aku masih ingat betul apa itu cinta, apa itu rasa sayang. Aku pernah memiliki semua itu. Pernah mencintai dan dicintai oleh seseorang. Sesorang yang berharga di mataku, yang berarti dalam hidupku. Seseorang yang membuatku rela melakukan segalanya. Membuatku rela memberikan apa pun yang di inginkannya. Waktuku, perhatianku, hidupku kurelakan untuknya.
Aku mencintainya. Sekarang. Tidak hanya sekarang, tapi bertahun-tahun yang lalu dan tahun-tahun yang akan datang. Aku akan tetap mencintainya.Hanya dia yang mampu menjadikan aku seperti ini. Membuatku mencintainya dengan tulus, mencintainya dengan sepenuh hatiku, hingga aku tak memiliki sedikit pun celah di hatiku untuk orang lain. Dan itu terjadi bukan hanya tahun-tahun lalu. Hingga saat ini tak pernah ada ruangan untuk orang lain selain dirinya di hatiku. Dan tidak akan pernah ada untuk tahun-tahun yang akan datang.
Aku menemukannya pada masa perkuliahanku. Dia bukan orang yang ku inginkan. Sama sekali bukan. Namun aku mengenalnya. Aku mencoba memahaminya, mengerti bagaimana dirinya, menghargai keberadaannya di tengah-tengah kehidupanku. Dan perlahan-lahan aku larut dalam setiap kehadirannya.
 Aku tak tahu, tak sadar atas apa yang kurasa sebelumnya. Sebelumnya aku sama sekali tak merasakan sesuatu yang berbeda di hatiku. Kehadirannya seolah biasa saja. Dia datang, selalu datang padaku. Hampir setiap hari dia mendatangiku. Namun aku tak merasa risih. Hanya biasa saja, sebelumnya. Namun semakin lama, aku terbiasa dengan kehadirannya. Dia menemaniku.  Aku senang dengan kedatangannya. Bahkan aku mulai menunggu dan berharap waktu agar cepat berlalu, dan dia cepat datang menemuiku.
Semakin lama, semakin kusadari bahwa aku merasakan ada yang berbeda di hatiku. Aku jatuh cinta padanya. Meskipun itu memerlukan waktu yang cukup lama setelah ia menjadi kekasihku. Aku jatuh cinta padanya. Benar-benar jatuh cinta padanya. Dan hanya dia yang memenuhi seluruh ruangan yang ada di hatiku. Hanya dia yang mengisi setiap waktuku.
Dia tulus mencintaiku. Aku tahu itu. Dia menyayangiku dengan sungguh-sungguh. Aku mengerti itu. Aku tahu dan aku mengerti apa yang ia rasakan padaku. Juga apa yang aku rasakan padanya. Aku mencintainya. Teramat mencintainya. Sekalipun dalam hubungan kami sering terjadi perselisihan, namun tak pernah sedikit pun terbesit dalam benakku untuk pergi darinya. Aku pun juga tak pernah berfikir untuk menyuruhnya menjauh dariku, sekalipun terkadang dia menyakitiku.
Dia pun sama sepertiku. Mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Seluruh harinya dia berikan untukku. Seluruh waktu yang dimilkinya. Dan segala hal yang berkaitan denganku, pasti akan dia lakukan untukku. Hingga terkadang membuat orang di sekitarnya cemburu padaku.
Lucu memang. Dia bukan orang yang aku inginkan. Tapi dia menjadi orang yang sangat aku butuhkan. Menjadi orang yang sangat berharga bagiku. Orang yang penting dalam hidupku. Orang yang aku cintai dengan sepenuh hatiku. Begitu pula dengannya yang semula biasa saja menjadi sangat dalam mencintaiku.
Semuanya memang berbeda setelah cinta datang di antara kami. Setelah cinta menghangatkan kami. Mencairkan kebekuan yang ada di antara aku dan dia. Membiasakan kami untuk sering berdua. Untuk sering bersama. Bahkan dalam waktu yang sangat lama. Selamanya.
Dia memahamiku. Mengerti aku. Sangat mengerti aku. Dia menerimaku. Tanpa sedikit pun protes terucap dari bibirnya. Dia menerima semua kekuranganku. Aku yang tomboy. Aku yang kehilangan setengah dari kewarasanku. Suaraku yang tidak manis di dengar seperti suara gadis-gadis lainnya. Aku yang tidak pedulian. Aku yang suka asik sendiri dengan duniaku. Aku yang sering marah-marah. Aku yang manja terhadapnya. Dia bisa menerima semua itu. Dia bisa dengan sabar dan telaten mengerti aku.
Aku untuknya dan dia untukku. Aku membutuhkannya dan dia membutuhkanku. Aku dan dia seperti pensil dan kertas untuk merefleksikan bagaimana cinta datang dan tumbuh di antara kami.
Dia....
MOHAMMAD ABRAHAM ALKAUTSAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar