Masih ingatkah apa itu cinta? Apa yang
disebut dengan rasa sayang yang berlebih terhadap seseorang? Hingga kau rela
dan mampu melakukan segalanya untuk orang yang kau cinta, untuk orang yang kau
sayang. Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, hingga tak ada orang
lain yang mampu mengisi hatimu lagi. Hingga kau benar-benar lupa dengan
segalanya. Dan hanya dia yang ada dalam benakmu.
Aku masih ingat betul apa itu cinta, apa
itu rasa sayang. Aku pernah memiliki semua itu. Pernah mencintai dan dicintai
oleh seseorang. Sesorang yang berharga di mataku, yang berarti dalam hidupku.
Seseorang yang membuatku rela melakukan segalanya. Membuatku rela memberikan
apa pun yang di inginkannya. Waktuku, perhatianku, hidupku kurelakan untuknya.
Aku mencintainya. Sekarang. Tidak hanya
sekarang, tapi bertahun-tahun yang lalu dan tahun-tahun yang akan datang. Aku
akan tetap mencintainya.Hanya dia yang mampu menjadikan aku seperti ini.
Membuatku mencintainya dengan tulus, mencintainya dengan sepenuh hatiku, hingga
aku tak memiliki sedikit pun celah di hatiku untuk orang lain. Dan itu terjadi
bukan hanya tahun-tahun lalu. Hingga saat ini tak pernah ada ruangan untuk
orang lain selain dirinya di hatiku. Dan tidak akan pernah ada untuk
tahun-tahun yang akan datang.
Aku menemukannya pada masa perkuliahanku.
Dia bukan orang yang ku inginkan. Sama sekali bukan. Namun aku mengenalnya. Aku
mencoba memahaminya, mengerti bagaimana dirinya, menghargai keberadaannya di
tengah-tengah kehidupanku. Dan perlahan-lahan aku larut dalam setiap
kehadirannya.
Aku tak tahu, tak sadar atas apa yang kurasa
sebelumnya. Sebelumnya aku sama sekali tak merasakan sesuatu yang berbeda di
hatiku. Kehadirannya seolah biasa saja. Dia datang, selalu datang padaku.
Hampir setiap hari dia mendatangiku. Namun aku tak merasa risih. Hanya biasa
saja, sebelumnya. Namun semakin lama, aku terbiasa dengan kehadirannya. Dia
menemaniku. Aku senang dengan
kedatangannya. Bahkan aku mulai menunggu dan berharap waktu agar cepat berlalu,
dan dia cepat datang menemuiku.
Semakin lama, semakin kusadari bahwa aku
merasakan ada yang berbeda di hatiku. Aku jatuh cinta padanya. Meskipun itu
memerlukan waktu yang cukup lama setelah ia menjadi kekasihku. Aku jatuh cinta
padanya. Benar-benar jatuh cinta padanya. Dan hanya dia yang memenuhi seluruh
ruangan yang ada di hatiku. Hanya dia yang mengisi setiap waktuku.
Dia tulus mencintaiku. Aku tahu itu. Dia
menyayangiku dengan sungguh-sungguh. Aku mengerti itu. Aku tahu dan aku
mengerti apa yang ia rasakan padaku. Juga apa yang aku rasakan padanya. Aku
mencintainya. Teramat mencintainya. Sekalipun dalam hubungan kami sering
terjadi perselisihan, namun tak pernah sedikit pun terbesit dalam benakku untuk
pergi darinya. Aku pun juga tak pernah berfikir untuk menyuruhnya menjauh
dariku, sekalipun terkadang dia menyakitiku.
Dia pun sama sepertiku. Mencintaiku
dengan sepenuh hatinya. Seluruh harinya dia berikan untukku. Seluruh waktu yang
dimilkinya. Dan segala hal yang berkaitan denganku, pasti akan dia lakukan
untukku. Hingga terkadang membuat orang di sekitarnya cemburu padaku.
Lucu memang. Dia bukan orang yang aku
inginkan. Tapi dia menjadi orang yang sangat aku butuhkan. Menjadi orang yang
sangat berharga bagiku. Orang yang penting dalam hidupku. Orang yang aku cintai
dengan sepenuh hatiku. Begitu pula dengannya yang semula biasa saja menjadi
sangat dalam mencintaiku.
Semuanya memang berbeda setelah cinta
datang di antara kami. Setelah cinta menghangatkan kami. Mencairkan kebekuan
yang ada di antara aku dan dia. Membiasakan kami untuk sering berdua. Untuk
sering bersama. Bahkan dalam waktu yang sangat lama. Selamanya.
Dia memahamiku. Mengerti aku. Sangat
mengerti aku. Dia menerimaku. Tanpa sedikit pun protes terucap dari bibirnya.
Dia menerima semua kekuranganku. Aku yang tomboy. Aku yang kehilangan setengah
dari kewarasanku. Suaraku yang tidak manis di dengar seperti suara gadis-gadis
lainnya. Aku yang tidak pedulian. Aku yang suka asik sendiri dengan duniaku.
Aku yang sering marah-marah. Aku yang manja terhadapnya. Dia bisa menerima
semua itu. Dia bisa dengan sabar dan telaten mengerti aku.
Aku untuknya dan dia untukku. Aku
membutuhkannya dan dia membutuhkanku. Aku dan dia seperti pensil dan kertas
untuk merefleksikan bagaimana cinta datang dan tumbuh di antara kami.
Dia....
MOHAMMAD
ABRAHAM ALKAUTSAR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar